Rumah-rumah yang gue lewati ketika berangkat ke kantor
Tak lama setelah pamit ke bokap n nyokap, gue buka pintu gerbang melangkah ke luar rumah. Dandanan gue hari itu adalah sepatu, jeans hitam, kaos, tas merah, dan topi… nggak ada bedanya dengan hari-hari biasanya. Gue jalan tegap, tapi santai, sambil dengerin musik dari mp3player gue. Terkadang gue dengerin audiobook, tetapi hari ini gue lagi pengen dengerin musik, sambil menikmati pagi saat gue berangkat. Diantara berbagai moment yang ada dalam satu hari, mungkin bisa dibilang waktu berangkat ke kantor ini adalah moment yang paling gue nikmatin.
Kenikmatan di pagi hari itu sebenernya nggak terlepas dari apa yang bisa muncul di benak gue ketika melangkah. Well, bisa apa aja. Dan pagi ini, gue memerhatikan tiap-tiap rumah yang gue lewati. Yang terlintas dalam benak gue adalah suatu pertanyaan, “Apa yang orang-orang lakuin di dalam rumah ini?”
Rumah A misalnya. Ini adalah rumah temen sebaya gue. Sejak masih bayi sampai gede, gue main sama dia terus. Cuma dia meninggal beberapa tahun yang lalu akibat AIDS. Dia punya 6 kakak. Rumah itu sekarang ditinggali oleh nyokapnya dan kakaknya yang paling muda. Bokapnya udah lama meninggal. Dan saat itu, pikiran gue melayang ke nyokap temen gue itu. Apa yang ada di benak nyokapnya itu kalau lagi sendirian di rumah? Kalau si kakak yang paling muda itu lagi pergi kerja misalnya.
Berikutnya rumah B. Ini adalah rumah yang baru dibangun. Sebelumnya, yang tinggal di situ bisa dibilang saudaraan sama yang rumah A. Sama-sama orang betawi, udah bertahun-tahun ada di sana. Gue nggak tau alasan dia menjual rumah itu. Masalah ekonomi kah? Dan bagaimana keluarga besar itu pada akhirnya memutuskan untuk menjual itu?
Dan untuk keluarga baru yang tinggal di rumah B ini, gimana perasaan mereka setelah membeli rumah baru itu? Mungkin sang istri sedang sumringah menikmati rumah baru itu. Atau mungkin suami istri itu lagi ML kali. Hehehe… tapi kayaknya enggak, si suami paling udah berangkat kerja.
Rumah C adalah rumah saudara dari temen SMA gue. Kalau lebaran, gue selalu ketemu temen SMA gue itu kalau dia berkunjung ke rumah itu. Belakangan, rumah itu dikontrakin ke orang lain. Mereka mengontrak di tempat lain yang lebih murah sehingga selisihnya bisa dipakai untuk menabung. “Buat uang sekolah si kecil kalau sudah besar nanti,” katanya.
Rumah D…. rumah E… rumah F…. masih banyak lagi…. dan biar nggak kepanjangan, kayaknya gue berhenti di sini aja.
Yang paling bikin gue kagum adalah ketika gue membayangkan orang-orang ini bertahan melewati apapun yang terjadi di kehidupannya. Gue belum cerita tentang dosen UI melamar jadi guru di kantor gue (tanpa tahu kalau gue kerja di situ kayaknya), tentang rumah yang anaknya pernah dipenjara dan akhirnya meninggal juga, dan lain sebagainya. Gimana mereka bertahan? Gimana hubungan keluarganya? Gimana perjuangan hidup mereka? Untuk siapa mereka berjuang? Seberapa bahagia mereka dengan hidupnya?
Memikirkan ini ketika gue melintas lalu nggak bikin gue mengambil kesimpulan apa-apa sih…. gue cuma mau bilang, isn’t life beautiful? ![]()