Selamat Datang Calon-calon BuruhTerbaik Bangsa
Kalimat itulah yang ada di spanduk besar penyambutan kedatangan gue sebagai mahasiswa baru di ITB tahun 2001, sesaat sebelum masa orientasi dimulai. Membaca tulisan di spanduk itu membuat gue tersenyum: beginilah kemahasiswaan ITB. Menarik….
Selama bertahun-tahun, ITB menyambut mahasiswanya dengan tulisan, “Selamat datang putra-putri terbaik bangsa” atau kalimat pujian semacam itu. Dan di tahun 2001, kalimat itu juga masih ada. Namun kali itu, kata “putra-putri” digantikan dengan kata “buruh” ketika masa orientasi atau OSKM (sekarang namanya jadi PRO-KM).Kata-kata “buruh” memang seakan terdengar kasar dan kurang-ajar. Mungkin memang itulah tujuan si pembuat spanduk itu. Namun kalau kita telusuri lebih lanjut, kalimat itu muncul sebagai cerminan dari hasil diskusi yang panjang dari mahasiswa ITB pada jaman itu. Salah satu diskusi yang sering diangkat tentunya adalahpendidikan.
[Pada tahun itu, pemegang pemerintahan kampus adalah mahasiswa-mahasiswa angkatan 1997-2000. Sebagian dari mereka masih merasakan suasana reformasi, perubahan dari kekangan masa orde baru ke pemerintahan yang demokratis dan terbuka. Di masa reformasi, topik-topik yang terkait dengan pemerintahan, politik, ekonomi, keterbukaan, keadilan, kebebasan pers, pendidikan, dan sebagainya adalah hal yang hangat untuk didiskusikan. Keadaan lingkungan membentuk para mahasiswa saat itu, setidaknya yang aktif dalam kemahasiswaan, menjadi mahasiswa yang kritis.]
Coba kita lihat bagaimana masyarakat umum memandang pendidikan. Sebagian masyarakat masih menganggap pendidikan sebagai alat untuk menciptakan tenaga kerja. Coba tinjau pesan berikut: “Belajar yang baik ya, biar pintar terus masuk ITB. Nanti setelah dari ITB, kamu bisa diterima di perusahaan besar, dapet gaji yang gede, terus bisa menikah dan punya anak”. Ini adalah pesan yang umum disampaikan, tetapi kalau kita cerna lebih jauh, pandangan ini sebenarnya membuat kita menganggap mahasiswa sebagai calon buruh saja. Mahasiswa dipandang tidak lebih dari suatu bagian dari alat produksi bagi perusahaan besar. Pandangan ini adalah pandangan yang buruk bagi pendidikan karena membuat mahasiswa terasing dari kehidupannya sebagai manusia.
Lembaga pendidikan bukanlah suatu tempat untuk mencetak manusia-manusia supaya mereka bisa bekerja di pabrik-pabrik. Bukan, sama sekali bukan. Proses pendidikan tidak seharusnya berlaku seperti kacamata kuda. Pendidikan bukan bertujuan supaya para peserta didik tidak bisa melihat kiri dan kanan. Justru sebaliknya, hanya dengan pendidikanlah seseorang bisa melepas kacamata kudanya. Pendidikanlah yang membuka mata seseorang terhadap dunia. Pendidikan yang baik akan membuat para peserta didik tau lebih banyak pilihan dalam hidupnya, membuat mereka menjadi manusia yang merdeka; merdeka untuk memilih jalan hidupnya dan bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut. Satu kalimat sederhana untuk menggambarkan paradigma pendidikan ini: Pintar pangkal merdeka! :)
Sekali lagi gue tekankan, pendidikan itu bukan untuk mencetak karir. Jadi, harus ada pergeseran paradigma pendidikan dari pendidikan yang hanya mencetak karir, menjadi pendidikan yang memerdekakan. Pergeseran paradigma tentang pendidikan ini bukan hanya menjadi tugas lembaga tetapi harus menjadi tugas tiap-tiap peserta didik dalam meraih pendidikannya.
Btw, sebenarnya gue menyambut sangat positif beberapa perubahan yang terjadi di kurikulum ITB beberapa tahun terakhir. Gue melihat bahwa ITB sudah sadar bahwa ITB harus bisa membuat mahasiswanya untuk berpikir luas, tidak hanya menjadi spesialis yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Lihat aja konsep seperti mayor dan minor, di mana sekarang mahasiswa ITB bisa mengambil mata kuliah minor di luar jurusannya. Penekanan terhadap pondasi, metode, dan integrasi dari sains juga sudah mulai terlihat, meskipun belum ada penekanan terhadap ilmu logika dan berpikir kritis. Jadi untuk di ITB saat ini, gue mengurangi protes gue tentang content pendidikan lagi deh. Nggak kayak dulu. Hanya saja perlu diperhatikan apakah penerapannya sudah sesuai dengan harapannya.
Kembali lagi ke tulisan “buruh” di spanduk itu. Tulisan itu gue rasa cukup berhasil membuat gue mempertanyakan kembali berbagai macam hal yang terkait dengan pendidikan. Gue rasa itu juga dapat memberikan paradigma baru tentang tujuan mereka kuliah di ITB. Makanya, gue menyambut tulisan itu dengan tersenyum. “Canggih juga senior-senior gue ini,” kata gue waktu itu dalam hati. “arogan, kasar, sok pinter, ngeselin, … n itu semua sesuai harapan gue”
well…. udah masuk season baru… 2009-2010… Sebentar lagi juga 17 agustus. So, prepare yourself, brother (n sista’)… siap-siap menikmati masa pendidikan lo…. and… Merdeka! :)
Risyad said,
August 9, 2009 @ 20:32
likes this lah..
Kebetulan gw jadi panitia lapangan PROKM, dan gw setuju sama perlunya membangkitkan kesadaran bahwa pendidikan bukan semata mata agar kita mudah mendapat pekerjaan, karena menurut Ki Hajar Dewantara ada 3 tujuan pendidikan, yaitu: 1) Memanusiakan manusia 2) Memerdekakan Manusia dan 3) Menyelaraskan Manusia dengan Alam