Galian
Wednesday, April 23rd, 2008Aku menggali…. menggali…. dan terus menggali….
Aku ada di bawah… dan susah untuk keluar lagi…. BT
Aku menggali…. menggali…. dan terus menggali….
Aku ada di bawah… dan susah untuk keluar lagi…. BT
Kata-kata memang sering terdengar indah
karena kita sering mengartikannya dengan persepsi kita
Kata-kata juga sering terdengar menyakitkan
juga karena kita mengartikannya dengan persepsi kita
Kata-kata sering ambigu
“Cinta” sering tidak berarti cinta
“Benci” sering tidak berarti benci
Namun, ada satu hal yang aku percaya…
…bisa menghapus keambiguan itu: Perbuatan
Kamis, 25 Januari 2007
15:12 @Dago Tea House
Kemarin, ia masih tersembunyi di sana
Hampir tak terlihat
Hanya samar
Tertutup oleh tawa
Tapi saat ini, ia tumbuh
Sinar bulan purnama telah membuatnya tumbuh
Membesar… menembus semua ruang
Durinya menusuk apapun yang pernah menyembunyikannya
Tak pernah kulihat bulan purnama semarah ini
Ia membentakku… sambil meneteskan air mata
Ia rindu…
Rindu dinantikan olehku..
Seperti bulan-bulan yang lalu
Tapi… Argh…
Aku juga marah…
Ku kunci pintu kamarku
Ku tutup jendela kamarku
Melindungi diri dari sinar bulan purnama
Menunggu ia lenyap
Agar tawa itu muncul lagi
Bahagia bersama kekasihku yang baru
-wisnuops-
7 September 2006
Jam 9 @Kamar 10A
Benar, Kawan…
Bahwa kepercayaan harus diperjuangkan
Tetapi… beranikah kalian…
dengan menggunakan kaedah-kaedah ilmiah
menabrakkan kepercayaanmu dengan kepercayaan lain?
Hanya dengan begitu kepercayaanmu bisa berkembang
Semakin dekat dengan kebenaran
-puisi gue-
28 Agustus 2006
Dengan sedikit berat hati
Kuberikan mawar putih ini untukmu
Berat… karena aku lebih suka merah
Merah bisa berarti semangat, perjuangan, dan pengorbanan…
Seperti darah
Namun, merah juga bisa berarti cinta…
Seperti warna yang menghiasi pelaminan di negeri Cina
Tetapi, merah bukan warna terbaikmu kurasa
Maka, aku berikan kamu mawar berwarna putih
Putih… seperti cahaya wajahmu
Yang melambangkan Kesucian…
Ketulusan…
Dan kesetiaan…
Kesucian seorang perempuan…
tidak ada hubungannya sama sekali dengan keperawanan
Tapi, kesucian hati dan pikiran
Seperti kesucian milik Jamila yang kau perankan
saat ia menolak menghisap shabu-shabu…
agar bisa melayani sepuluh laki-laki
Ketulusan dan kejujuran…
Terpancar dari simetri wajahmu
dan tatapan matamu yang malu tetapi tegas
Kesetiaan… bagai merpati
Aku tahu… arti warna-warna ini hanyalah ilusi
Ilusi belaka yang dibuat manusia
Tapi, aku tidak bisa lepas darinya
Seperti cinta juga ilusi… tapi aku tetap mempercayainya
Lolla, dengan puisi ini… kuberikan mawar putih ini untukmu
Semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu
Semoga kamu mau bangunkan aku dari mimpi
Untuk mengenal kamu di dunia realita
Sehingga aku tahu… putihkah kamu? ![]()
Semua terlihat putih
Sinar matahari pun tidak mampu menembusnya
Menambah dingin yang menusuk
Seakan alam ingin membuatku sekarat
Membeku karena perasaan bersalah
Atas dosa yang kemarin ku lakukan
[pagi 17 sept 2006 @puncak (gatau namanya - lewat padasuka)]
Gelegar suara membuatku terjaga
Namun, ia tidak berhenti di telinga dan menjadi bising
Perlahan-lahan dan seperti berbisik…
ia merambat dan membangunkan seekor kupu-kupu di perutku
sehingga kupu-kupu itu terbang menggelitik kesana-kemari
Tentu saja.. ini kan hanya setetes cuka
Setetes cuka di tengah samudera..
tidak akan membuatnya menjadi asam
Ya.. ini hanya setetes cuka
Sementara aku telah mengalami samudera bersamamu
[ide puisi ini: 16 sept 2006 Ditulis: 18 Sept 2006 @kamar 10A]